Matahari baru saja naik sepenggalah di ufuk timur Kota Binjai. Di sebuah kediaman sederhana, Drs. Amir Hamzah—atau yang lebih akrab disapa masyarakatnya dengan panggilan Mak Amir—sedang menyeruput kopi pagi sebelum memulai rutinitasnya. Baginya, pakaian dinas hanyalah atribut fisik; di baliknya, ia tetaplah putra asli kelahiran "Kota Rambutan" yang tidak pernah lupa daratan.
"Pak, mobil dinas sudah siap," lapor seorang ajudan dengan sikap kaku.
Amir tersenyum tipis. "Sabar, sikit lagi. Habiskan kopi ini dulu. Jangan terlalu tegang, jabatan ini titipan, bukan untuk pamer kuasa."
Gaya kepemimpinan Mak Amir memang unik, bahkan bagi sebagian orang dianggap terlalu santai. Ia sering terlihat duduk di warung kopi pinggiran, mendengarkan keluh kesah warga tanpa sekat protokoler yang ketat. Ia berbicara apa adanya, tanpa bahasa politik yang berbunga-bunga. Namun, kesederhanaan ini sering kali menjadi mata pisau ganda.
Di kantor pemerintahan, beberapa bawahan berbisik di belakang punggungnya. "Kurang wibawa," kata mereka. Mereka terbiasa dengan gaya pemimpin yang feodal dan berjarak. Tak jarang, insan pers menuliskan kritik tajam, menuding gaya bersahajanya sebagai bentuk ketidaktegasan dalam mengambil kebijakan besar. Masyarakat yang terbiasa dengan seremoni mewah pun terkadang meragukan kehadirannya yang tanpa pengawalan ketat.
Suatu sore, seorang jurnalis mencegatnya setelah ia meninjau perbaikan saluran air di sudut kota. "Pak Wali, banyak yang menganggap gaya Bapak terlalu 'biasa' untuk jabatan seorang Walikota. Tidakkah Bapak merasa ini akan menurunkan martabat pemerintah kota?"
Mak Amir berhenti sejenak, mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan lusuh. Ia menatap jurnalis itu dengan sorot mata yang teduh namun teguh.
"Begini, Lae," jawabnya tenang. "Jabatanku memang Walikota, tapi aku tetap Mak Amir. Aku lahir besar di tanah Binjai ini, makan rambutan dari pohon yang sama dengan kalian. Kalau aku berubah jadi orang asing hanya karena kursi ini, lantas siapa yang benar-benar mewakili rakyat?"
Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan jurnalis itu terdiam. Bagi Mak Amir, setiap tanda tangan yang ia bubuhkan dan setiap kebijakan yang ia putuskan adalah bagian dari ibadah. Ia sangat menyadari bahwa amanah jabatan ini bukan sekadar urusan administrasi negara, melainkan kontrak spiritual yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak.
Pernah suatu kali, ia menolak pengadaan fasilitas mewah di ruang kerjanya. "Gunakan uangnya untuk memperbaiki jalan yang berlubang di Binjai Utara. Aku masih bisa duduk di kursi lama," perintahnya singkat. Meski keputusan itu dicibir oleh beberapa pihak yang mengharapkan proyek, Mak Amir tak bergeming.
Baginya, menjadi pemimpin bukan berarti harus ditakuti atau dipuja dengan kemewahan. Menjadi pemimpin adalah tentang kehadiran. Ia lebih memilih dihina karena kesederhanaannya daripada dipuji karena kepalsuannya.
Malam itu, ketika suasana di seluruh sudut Kota Binjai mulai tenggelam dalam kesunyian yang mendalam, Mak Amir tampak terdiam dan merenung cukup lama di teras depan rumahnya. Di dalam benaknya, ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan kepemimpinan yang ia tempuh masih membentang sangat panjang serta akan selalu dipenuhi oleh berbagai duri kritik yang tajam. Namun demikian, selama ia masih memiliki kesempatan untuk berjalan kaki menyusuri lorong-lorong pasar tradisional dan tetap disapa dengan penuh kehangatan serta ketulusan oleh segenap warganya, ia merasa sangat yakin bahwa seluruh tugas dan pengabdian yang ia jalankan selama ini telah berada di jalur yang tepat dan benar.
"Biarlah mereka bicara apa saja dan memberikan penilaian sesuka hati tentang gayaku yang sederhana ini," gumamnya dengan penuh keyakinan di dalam hati yang paling dalam. "Meskipun saat ini jabatanku adalah seorang Walikota yang memikul tanggung jawab besar, namun jati diri dan jiwaku akan tetap menjadi Mak Amir yang dikenal rakyat. Karena pada akhirnya, ketika waktu telah usai, bukan gelar mentereng atau jabatan tinggi yang akan ditanya dan dipertanggungjawabkan, melainkan seberapa besar kontribusi nyata serta manfaat yang telah kuberikan bagi masyarakat di tanah kelahiranku ini." (penausang)