Senin, 19 Januari 2015

KUTITIPKAN CINTA DI BINJAI

Lila menyadari ada sepasang mata memperhatikannya sejak bel sekolah berdering, pemilik sepasang mata itu tak lain adalah Susanto pria warga negara keturunan yang duduk persis di pojok kelas X A SMA Swasta Ahmad Yani Binjai.

Rasa suka Susanto terhadap Lila sudah banyak diketahui teman -teman sekelasnya hanya saja keduanya tidak pernah terlihat jalan bersama seperti layaknya hubungan kedua remaja yang sedang berpacaran, maklumlah Lila dan Susanto memiliki keyakinan yang berbeda, keluarga Lila dikenal keluarga  yang taat beragama dilingkungan tempat tinggalnya, seperti halnya Bunda Lila yang merupakan pengurus organisasi agama islam di Kecamatan Binjai Timur. Sedangkan Susanto orang tua laki-lakinya pengurus Barongsai salah satu budaya kesenian tiongha yang melegenda.

Sesekali Lila dari balik jilbab yang dikenakannya  membalas lirikan Susanto sehingga tak jarang keduanya saling  bertemu pandangan dan melempar senyum merasakan getaran cinta yang bersemi dihati keduanya.

"Susanto coba kamu selesaikan soal nomor 7 tentang  rumusan pembagian yang belum sempat terpecahkan pada pembahasan pekan kemarin ", perintah Pak Ginting guru pelajaran matematika.

Sesaat sembari terus melepas senyum ke Lila, Susanto melangkah pasti kedepan kelas dan hanya dalam hitungan beberapa menit berhasil mengurai soal rumusan pembagian yang ditugaskan kepadanya.

Pak Ginting tak memerlukan waktu yang lama untuk mengkoreksi jawaban yang telah diselesaikan Susanto dan dibalas dengan anggukkan kepala sebagai bukti bahwa tugas yang diberikan kepada Susanto diselesaikan dengan baik.

Untuk soal hitungan -hitungan Susanto merupakan siswa yang diunggulkan tidak saja dikalangan sekolah bahkan telah berhasil mewakili Kota Binjai dalam olimpiade matematika ditingkat nasional.

Selanjutnya beberapa menit kemudian bel jam istirahatpun  berdering dan Lila bersama Desi teman sebangkunya langsung meninggalkan ruang kelas menuju taman sekolah yang menjadi tempat paporit Lila menghabiskan waktu jam istirahatnya.

Betapa kagetnya Lila dan Desi ternyata langkah mereka diikuti Susanto karena beberapa menit setelah tiba di taman sekolah yang terletak di sudut bangunan sekolah keduanya dikejutkan dengan kehadiran Susanto.

"Apa masih ada bangku yang tersisa untuk saya", sapah Susanto memecah rasa kaget Lila dan Desi.

Silakan duduk disini jawab Desi sembari menunjuk tempat duduk kosong persis didepannya.

Apa gerangan yang ingin disampaikan, balas Desi bertanya?, begini Des, seperti yang telah diumumkan Pak Ginting bahwa dua bulan kedepan akan memasuki ujian nasional, jawab Susanto.

Untuk itu saya mengusulkan membuat kelompok belajar bersama, sambung Susanto.

Usulan Susanto langsung mendapatkan reaksi dari Desi, ide baik itu, saya setuju, sambut Desi.

Lalu gimana pendapat kamu Lila, tanya Desi, aku sependapat dengan kamu karena kita bisa belajar matematika dengan Susanto jawab Lila.

Hem,mmm, maunya itu biar bisa sering ketemu dengan Susanto, balas Desi yang diikuti tawa kecil mereka bertiga. Selanjutnya ketiganya melangkah bersama kembali ke ruang kelas seiring suara bel pertanda jam istirahat berakhir.

Selain dikenal sebagai siswa yang jago matematika, Susanto juga ahli dalam kesenian barongsai bahkan kelompoknya pernah didaulat sebagai juara paporit pada even barongsai tingkat Asia di Singapore.

Bersambung,........

Selasa, 25 November 2014

UKM BANK SUMUT EKSPO DIBUKA, TUSUK SATE BINJAI LANGSUNG TERJUAL

Untuk sekian kali tusuk sate Binjai mendapat kesempatan mengikuti pameran UKM Bank Sumut Ekspo yang diselenggarakan selama tiga hari  dihalaman  parkir Kantor Pusat Bank Sumut Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (25-27/11).

"usai pembukaan sudah 1kg yang terjual pak", jelas Siska salah seorang penjaga stand.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa sejak pameran dibuka salah seorang peserta stand penjual makanan langsung membeli tusuk sate yang kita pamerkan,jelasnya.

Kata pembeli itu, kualitas tusuk sate Binjai ini sudah cukup baik sesuai dengan produk yang berdar dipasaran, bebernya.

Bahkan pembeli itu mengakui bahwa harga masih sangat murah bila dibandingkan dengan yang beredar dipasaran, sambungnya.

Dalam kesempatan itu Idaman Binjai Institute sebagai lembaga pendampingan ekonomi kerakyatan juga memamerkan produk lainnya seperti ikan lele asap, beragam produk berbahan baku dari ubi-ubian. @keZen

Sabtu, 15 November 2014

NAMU BELAGA PESONA AIR TERJUN YANG BELUM TERGALI

Air terjun itu diberinama Namu Balanga  atau oleh masyarakat setempat disebut air terjun rata air yang terletak di Kecamatan Sei Bingai dan dapat ditempuh lebih kurang dua jam perjalanan dari Kota Binjai dengan mengendarai sepeda motor atau kendaraan roda empat.

Keindahan air terjunnya yang masih perawan itu begitu mempesona bagi para pencinta alam, dimana airnya yang begitu jernih bagaikan sebening kaca sehingga mampu memikat setiap pengunjung yang pernah menginjakkan kakinya ke lokasi air terjun Namu Belaga. 

Namun untuk dapat sampai kelokasi air terjun, pengunjung disarankan terlebih dahulu  harus mengganti kendaraannya dengan kendaraan khusus dan ditemani seorang pemandu, karena medan yang dilalui  cukup berat yang penuh dengan kubangan lupur dan dalam.

Sebelum mencapai air terjun Namu Belaga kami terlebih dahulu mencapai  Desa Banyak Pinang yang ditempuh selama lebih kurang satu jam perjalanan.

Kemudian perjalanan kami dilanjutkan dengan menelusuri jalan setapak hutan Bukit Barisan yang banyak ditumbuhi pepohonan aren,  sebelum  sampai kebibir bukit  letak air terjun itu berada. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan setapak  diantara dinding bukit yang menurun dan licin, serta sangat menguras tenaga, karena sewaktu-waktu kita bisa tergelincir jatuh kedalaman jurang yang dalam. Untuk itu sangat dituntut kewaspadaan dan berhati -hati dalam setiap langkah yang dilalui.

Bahkan saya bersama kedua rekan saya terpaksa harus melepas alas kaki  dan  disarankan agar membawa perlengkapan yang cukup, apalagi bila bepergian dimusim penghujan.

Setelah lebih kurang setengah jam kami  menelusuri dinding bukit  yang  terjal dan bebatuan kelelahan yang ku rasakan akhirnya terbalas juga setelah melihat keindahan air terjun yang masih perawan itu.

Air yang menyucur melalui dinding tebing setinggi lebih kurang 20 meter itu seakan menggoda aku untuk menceburkan tubuh kedalaman air kolam  yang dingin dan jernih sebening kaca itu. Rasa letih selama  perjalanan rasanya terbalas sudah."Subahanallah dengan segala kebesaran dan keagunganMu ya Allah", amin. @keZen

Minggu, 09 November 2014

DIPAMERKAN DI MEDAN TUSUK SATE BINJAI DIBURU

Permintaan akan tusuk sate Binjai cukup tinggi pada pegelaran  budaya dan teknologi ekonomi kreatif Kota Binjai  yang digelar di merdeka walk Kota Medan, Sabtu/Minggu (8.9/11).

"Permintaan akan tusuk sate cukup tinggi dan sepertinya pameran yang digelar selama dua hari ini cukup berhasil ", beber Kadis Perindag dan Koperasi Kota Binjai, T.Syarifuddin kepada The Comment, Minggu (9\11).

Jelasnya, bahwa selama pemeran berlangsung transaksi akan permintaan tusuk sate terbilang cukup tinggi, hal itu sejalan dengan banyak pengunjung yang mengunjungi stand Dinas Perindag dan Koperasi.

Pada umumnya pengunjung banyak yang membeli tusuk sate Binjai bahkan ada permintaan dalam jumlah besar, sambung T.Syarifuddin.

Sejatinya pagelaran budaya dan pameran teknologi ekonomi kreatif yang digelar Pemko Binjai mendapat antusias yang cukup tinggi dari masyarakat Kota Medan dan kita berharap acara yang sama dapat diselenggarakan lagi, harapnya.

Acara pagelaran budaya dan ekonomi kreatif Kota Binjai dibuka langsung oleh Walikota, HM.Idaham SH,Msi dan didampingi Ibu Walikota Hj.Lisa Idaham.

"Saya sangat bangga dengan produk yang dihasilkan masyarakat kota Binjai karena mampu bersaing dengan produk dari daerah lain",ungkap Idaham dalam sambutannya. @keZen

Rabu, 29 Oktober 2014

KONJEN JEPANG "KETUSUK SATE "

Konjen Jepang untuk Indonesia di Sumatra Utara, Mr Yuji  Hamada "ketusuk  sate "di Pameran Pembangunan Kota  Binjai (hapsak) 2014, Kamis (30/10).

Maaf,...., pembaca diminta  jangan langsung berasumsi negatif karena Konjen Jepang bukan terkena tusuk sate, melainkan petinggi Konjen Jepang itu berkesempatan  menyaksikan secara langsung pembuatan tusuk sate ketika  mengunjungi stand Dinas Perindag dan Koperasi pada acara hapsak Kota Binjai.

"ini sungguh luar biasa dan hasilnya sangat baik", sebut Mr.Yuji sembari mengangkat  jempol jari tangan kanannya kepada Walikota Binjai, HM Idaham SH, Msi dan Ibu Walikota Hj.Lisa Idaham yang mendampinginya saat itu.

Dijelaskan Idaham,  bahwa produk tusuk sate tersebut merupakan hasil dari kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga yang tersebar di lima sekecamatan Kota Binjai.

"Sedikitnya saat ini telah 300 unit alat pres pembuat tusuk sate batuan Pemko Binjai yang telah diserahkan", jelas Idaham menambahkan.

Lebih lanjut Walikota Binjai menjelaskan, bahwa dengan berjalannya program kerajinan tusuk sate itu, sungguh sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena mampuh menambah pendapatan setiap rumah tangga.

Sedikitnya berkisar Rp. 100 ribu sampai dengan Rp. 150 ribu bertambah pendapatan keluarga  masing -masing per-rumah tangga, jelas Idaham menambahkan. @keZen

Senin, 27 Oktober 2014

WUJUDKAN EKONOMI MANDIRI, LAGI WALIKOTA BINJAI SERAHKAN 100 UNIT ALAT PEMBUAT TUSUK SATE

Mengangkat tema melalui pelatihan pengerajin bambu "Kita Wujudkan Kesejahteraan Keluarga Berbasis Ekonomi Mandiri ", Walikota Binjai H.Idaham SH,Msi untuk sekian kalinya kembali menyerahkan 100 unit alat pres pembuat tusuk sate kepada seratus pengerajin bambu sekota Binjai, Selasa (28/10).

"Saya berharap dengan penyerahan alat pembuat tusuk sate ini dapat menumbuh kembangkan ekonomi kerakyatan", ungkap Idaham.

Sejatinya sebanyak 200 unit alat pres pembuat tusuk sate yang telah dibagikan kepada masyarakat, maka dengan demikian sebanyak itu pula jumlah pengerajin bambu yang telah terbina saat ini.

Untuk berikutnya lagi dalam waktu dekat ini sejumlah 100 unit akan dibagi -bagikan kepada masyarakat , khususnya diperuntukkan bagi kader Pos Yandu, guna memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,  jelas Idaham.

Lanjutnya, bahwa minat masyarakat untuk terlibat dalam program padat karya peningkatan ekonomi kerakyatan yang tengah digalakkan mendapatkan respons yang cukup baik. Itu terbukti dengan adanya  permintaan dari kader pos Yandu yang ingin berperan serta menjadi pengerajin tusuk sate.

"Menjadi pengerajin tusuk sate ternyata cukup menjanjikan bagi peningkatan ekonomi keluarga ", ujar Idaham menambahkan.

Linda (43), salah seorang peserta pelatihan merasa bangga telah diberikan kesempatan ikut dalam program pelatihan tersebut.

"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Walikota Binjai Bapak Idaham telah diberikan  kesempatan menjadi seorang wirausahawan ", ungkapnya.

Menurutnya, meski alat yang diserahkan masih sederhana namun pada hakekatnya bapak Idaham telah membuka peluang kepada masyarakat untuk menjadi seorang pengusaha kecil, beber Linda.

Kegiatan yang diprakarsai Dekeranas Kota Binjai itu  ditandai dengan  penyerahan alat pres pembuat tusuk sate oleh Ketua Dekeranas, Hj. Lisa Idaham SH didampingi Walikota Binjai Idaham SH, Msi, Kadis Perindag  dan Koperasi, T. Syarifuddin dan pengurus Idaman Binjai Institute (IBI) sebagai lembaga pendampingan ekonomi kerakyatan. @keZen

Rabu, 15 Oktober 2014

KAMI BUKAN TIONGHA, TAPI WARGA KELAS SATU

Joko tidak mampu menutupi kekesalannya menyaksikan rumah beserta ladang peninggalan almarhum orang tuanya telah dikuasai Acai warga keturunan tiongha, bahkan dirinya tidak mampu berbuat banyak melihat Wiranto keponakannya mendapat perlakuan kasar dari Acai karena dianggap tidak becus membersihkan mobil majikannya.

"Kurang ajar sekali si Acai telah  membentak keponakan aku, mentang -mentang sekarang telah menguasai hampir semua tanah yang ada dikampung ini ", ujar Joko kepada istrinya Wati ketika itu.

Sementara itu Wati hanya  bisa berkata, "Yang sabar mas" kepada suaminya, karena saat ini kondisi telah berbeda, ungkap Wati kepada suaminya.

Lanjut Wati, bahwa sebagian besar tanah dan lahan pertanian di desa Ciberem  Kabupaten Deli Serdang  telah dikuasai warga keturunan tiongha, sedangkan warga pribumi hanya bekerja sebagai buruh taninya.

"Mereka tidak lagi menganggap dirinya sebagai warga turunan,tapi sebagai warga kelas satu ", tukas Wati.

Sehingga tidak mengherankan kalau Acai memperlakukan Wiranto sekasar itu karena mereka menganggap bisa membeli semuanya,termasuk bisa membeli hukum dan menganggap kebal hukum, beber Wati.

Kalau Mas tidak percaya sambung Wati kepada suaminya, dipersilakan untuk  mengecek langsung atau menanyakan kepada Pak Kades hampir semua lahan di desa ini telah berganti kepemilikannya, jelas Wati dengan nada suara sedikit keras.

Joko kurang lebih 11 tahun tidak pulang ke kampungnya. Pengalaman hidup di ibu kota mengajarkannya bahwa pengalaman yang didapat juga terjadi di kampungnya.

Hidup di kota Joko hanya  mampu mengontrak kamar 3x2 meter sementara hampir sebagian besar pemilik perumahan mewah dan apartemen diuni warga keturunan tiongha sementara kita sebagai warga pribumi asli sebagian pewaris pejuang kemerdekaan hanya sebagian tamu di negeri sendiri.

Apalagi saat ini Jakarta dipimpin seorang bekas keturunan tiongha,  membuat batin ini terluka menyaksikan bagaimana seorang PNS yang telah mengabdi puluhan tahun kepada bangsa dan negara ini mendapat perlakuan yang tidak simpatik sebagai seorang kepala daerah,  jelas  Joko kepada istrinya.

"Kini nasi telah jadi bubur,  masyarakat terperdaya dengan pencitraan pemimpin yang merakyat,  sekarang baru tau rasa bagaimana rasanya dijajah oleh mereka bermata sipit ", tukas Joko menambahkan.

Benar yang mamak katakan, sambung Joko kepada istrinya, kini hampir setiap jengkal tanah di kota -kota besar dan perdesaan telah dikuasai warga keturunan tiongha. Kalau negara Amerika Serikat warga tiongha hanya bisa hidup dikawasan Cina twon sementara di negara Indonesia mereka bebas menguasai dan memiliki lahan di daerah manapun, artinya  semua tanah menjadi kawasan cina town, ungkap Joko dengan nada kesal.

Ungkapan Joko itu disambut tepuk tangan teman-temannya dan warga lainnya yang kebetulan mendengar pembicaraan itu. Selanjutnya disertai teriakan emosional menyadari fakta kondisi yang menimpa bangsa Indonesia saat ini.  @kezen